
Sekitar 70 tahun lalu, terbit cerpen fenomenal yang masih menjadi bacaan sampe sekarang berjudul “Runtuhnya Surau Kami.” Karya A.A Navis yang lalu menjadi salah satu aktor penting di masa pergolakan 1966 bercerita tentang sosok bernama Garin yang lama menjadi penjaga surau (takmir) yang disadarkan oleh Ajo Sidi, sang pencerita, bahwa cahaya agama tidak cukup dipelihara dengan rajin dan khusu’ melakukan ibadah formal. Cahaya agama secara konseptual dan alegori perlu disebarkan ke manusia dan makhluk dengan perbuatan baik dan amal sholeh. Tanpa hablum minannas yang memadai, maka cahaya agama bisa padam.
Selama dua bulan terakhir (Mei dan Juni 2026), Indonesia alami gelombang besar pemadaman secara pemadaman cahaya secara literal. Gangguan listrik massal (blackout) serta serangkaian pemadaman bergilir harian yang melanda berbagai wilayah dari Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan. PT PLN tidak merilis angka total frekuensi pemadaman secara keseluruhan sehingga tidak ada angka resmi. Tapi website inisiatif warga di pantaulistrik.my.id menggunakan keluhan pemadaman di sosial media untuk hasilkan peta di bawah dan dapati bahwa terjadi juga pemadaman di Nusa Tenggara dan Sulawesi selain di Jawa dan Sumatra.

Listrik adalah salah satu indikator utama kemajuan dan peradaban. Foto satelit malam hari di Afrika menunjukkan betapa sedikitnya cahaya dan listrik di daerah gurun yang minim peradaban. Foto serupa di Korea Utara dan Korea Selatan adalah cerminan betapa jomplangnya kesejahteraan ketika diatas garis parallel 44 hanya ada beberapa bercak terang di malam hari sementara Korea Selatan terang benderang.
Ketika tulisan ini ditulis belum ada perguruan tinggi atau lembaga riset terkemuka yang menghitung kerugian ekonomi dari pemadaman. Tapi dalam beberapa hari pemadaman maka bahan makanan mentah (sayur, ikan, daging, dll) yang disimpan di freezer dan kulkas akan cair dan tidak dapat dipakai untuk makan di rumah atau produksi komersial. Pelajar dan mahasiswa terganggu persiapannya ketika menghadapi ujian akhir dan anak sulit tidur di cuaca panas tanpa kipas. Transportasi yang menggunakan listrik juga terganggu
Dampak ke dunia usaha juga tidak kecil. Pada jangka pendek, produksi terganggu dan target tidak tercapai. Upaya untuk mengurangi resiko pemadaman seringnya membeli genset dan ketika mati listrik dinyalakan dengan menggunakan disel yang tidak gratis sehingga menambah biaya produksi dan mengurangi daya saing produk Indonesia.
Pada jangka menengah, investasi di Indonesia khususnya industri yang perlu banyak listrik dan menyerap tenaga kerja di pekerjaan sektor formal, menjadi kurang menarik karena resiko mati lampu dan negara tetangga. Vietnam dan Philipina yang pendapatan per kapita-nya dekat dengan Indonesia akan meningkat competitiveness-nya bagi investor. Transisi menuju kendaraan listrik (EV) juga akan menurun ketika masyarakat tidak yakin supply listirk terjamin.
Katanya Indonesia Surplus Listrik
Kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional pada tahun 2024 mencapai 100,65 GW dan meningkat menjadi 107,51 GW pada 2025. Konsumsi listrik (penjualan) nasional tercatat sebesar 306,22 TWh pada 2024 dan naik menjadi 317,69 TWh pada 2025. Untuk menghitung overcapacity, bandingkan cadangan kapasitas yang ada dengan konsumsi puncak/beban aktual (asumsi Cadangan aman PLN (Reserve Margin) sebesar 30% dari total kapasitas). Perhitungan menemukan kelebihan kapasitas (overcapacity atau oversupply) sebesar rata-rata 33% hingga 38% pada tahun 2024 dan 2025.
Pada era presiden Jokowi dibangun tambahan supply listrik besar-besaran. Masih inget target 35.00 Megawatt? Namun ternyata sekitar 57% hingga 60% dari target kapasitas terpasang (installed capacity) pembangkit listrik yang dibangun atau disetujui dalam program mega-proyek era Presiden Jokowi berbasis batu bara. Secara keseluruhan, PLTU batu bara saat ini masih menyumbang lebih dari 55% dari total kapasitas pembangkit listrik nasional sebagaimana ditunjukkan grafik berikut.

Kenapa Indonesia menggunakan energi berbasis batu bara yang menghasilkan polusi paling tinggi diantara energi fosil ketika negara lain sudah beralih? Argumen yang dikemukakan ketika itu secara umum: tidak apa-apa polusi lebih tinggi tapi cepat dibangun dan murah.
Namun terjadi creative destruction seperti diprediksi oleh Schumpeter. Riset bidang energi dan material bebeapa dekade telah meningkatkan efisiensi solar panel, terjadi lingkaran malaikat (virtous cycle) dimana harga yang turun memicu naiknya demand sehingga produksi meningkat drastis dan harganya turun signifikan. Biaya hasilkan listrik untuk pembangkit komersial turun dari dari sekitar USD 0,38 – 0,46 per kWh di 2010 menjadi 4-7 sen per kWh pada 2025. Harga tersebut lebih rendah dari energi fosil seperti batu bara, gas dan diesel.
Namun bagaimana dengan intermittency problem? Istilah keren tersebut marujuk pada kenyataan bahwa energi terbarukan seperti solar dan angin tidak stabil dan on-off tergantung matahari dan kekuatan angin. Sekarang sudah banyak riset berbagai teknik menyimpan energi. Di antara teknologi yang banyak digunakan menyimpan produksi matahari/angin maka kelebihan energi digunakan memompa air ke ketinggian dan disimpan, ketika angin/matahari kendur maka air dialirkan untuk memutar turbin yang hasilkan listrik. Makin banyak juga teknologi batere pada fase komersial dengan kapasitas tinggi dan harga dibawah USD 100 per kWh seperti Lithium Iron Phospate (LFP) dan Sodium Ion sedang diuji daya tahannya apakah cocok jadi solusi jangka panjang penyimpanan energi terbarukan.
Pada lain sisi, Perang Teluk III menyebabkan supply migas dari Selat Hormuz terganggu dengan ketidakpastian kapan akan tuntas dengan gaya negoisasi Trump yang tidak membangun kepercayaan. Sehingga tidak sedikit negara yang kembali menggunakan batu bara untuk bangkitkan listrik, paling tidak untuk sementara. Akibatnya harga batu bara global naik dari sekitar USD 100 per ton pada periode Maret- Desember 2025 hingga menembus USD 140 per ton pada bulan Juni 2026.
Kapasitas terpasang pembangkit listrik batu bara itu satu hal, tapi untuk menghasilkan listrik perlu input batu bara. Beda dengan energi terbarukan yang mahal pemasangan dan menantang untuk cari lokasi yang pas, tapi setelahnya dapat menghasilkan listirk dengan biaya produksi murah untuk waktu yang panjang.
Melihat harga di luar negeri yang meningkat maka produsen batu bara dalam negeri meminta kenaikan harga pembelian PLN dari USD 70 per ton ke USD 80 per ton. Negoisasi yang belum tuntas ini mengganggu supply. Jadi listrik berbasis batu bara sekarang sudah polusi juga mahal dan tidak pasti. Bayangkan…!
Menjaga Listrik Nyala
Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa total produksi batu bara Indonesia pada tahun 2025 mencapai angka 790 juta ton. Dari total produksi tersebut, porsi penjualan untuk pasar ekspor mencapai 65,1% atau sekitar 514 juta ton, sedangkan untuk kebutuhan domestik (DMO) porsinya mencapai 32%, yakni sekitar 252,8 juta ton
Perlu dihitung dengan metode ilmiah yang kuat apakah kenaikan harga batu bara global telah memberikan tambahan keuntungan (windfall profit) yang cukup untuk tidak menaikkan harga pembelian PLN. Jika tidak cukup, maka berapa kenaikan yang layak dan bisa ditanggung oleh PLN dan keuangan negara. Sehingga permasalahan supply jangka pendek batu bara bisa di selesakan.
Target bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) nasional adalah 23% diantara bauran energi primer pada 2025, dan ditargetkan meningkat ke 31% pada 2050. Pada sat ini porsi energi terbarukan di kelistrikan Indonesia jauh di bawah targe sekitar 15 % yang lebih baik dari Thailand dan Korea Selatan, tapi jauh dibawah China dan Vietnam sebagaimana ditunjukan oleh gambar berikut. Kondisi ini menyebabkan ketergantungan pada energi fosil yang mahal dan kotor sehingga Indonesia perlu meningkatkan produksi listrik dari energi terbarukan.

Tapi bagaimana dengan kelebihan supply kapasitas terpasang yang menggunakan skema take or pay, alias PLN beli atau tidak tetap harus bayar kepada produsen listrik (Independent Power Producer- IPP)?
Ada dua opsi yang perlu dijalankan secar paralel. Yang pertama meningkatkan demand listrik khususnya dari industri yang membutuhkan energi sehingga oversupply berkurang. Opsi ini membutuhkan pemerintah menjaga business climate dan arah kebijakan sehingga investor dalam negeri dan luar negeri tidak ragu untuk investasi jangka panjang di Indonesia. Sebagian perusahaan besar global malah hanya mau mengkonsumsi listrik terbarukan dan emoh energi fosil sebagai bagian dari citra globalnya. Perusahaan-perusahaan seperti ini, yang sekarang banyak investasi ke Vietnam dan Malaysia, perlu menjadi fokus untuk diajak investasi di Indonesia.
Opsi yang kedua adalah mempensiunkan dini pembangkit listrik berbasis batu bara. Masalahnya kontrak penyediaan listrik dengan IPP sudah ditandatangani untuk jangka panjang (15-25 tahun) dan jika sepihak diputus maka kemungkinan besar pemerintah akan kalah di arbitrase. Sehingga negoisasi untuk pensiun dini membutuhkan dana lumayan besar untuk kompensasi dan mencari titik tengah. Ada kelembagaan yang dibentuk seperti Just Energy Transition (JET) namun perang dagang. lalu perang Ukraine dan Perang Teluk III menyita perhatian serta pendanaan dari negara Barat yang selama ini menjadi donor utama sehingga tidak banyak yang dialokasikan untuk transisi energi.
Ada rencana untuk menyambung jaringan listrik Jawa-Bali dengan Kalimantan dan Sulawesi sehingga kerentanan supply listrik di masing-masing pulau bisa diperkuat dari pulau lain. Asian Development Bank (ADB) juga memiliki rencana untuk menyambungkan jaringan/grid listrik Jawa-Bali dengan Sumatera dan dengan Singapura serta Malaysia sehingga daerah yang kekurangan listrik bisa membeli dari yang berkelebihan. Jika pendanaan bisa didapat dari luar negeri, dengan support negara lain secara bilateral dan institusi multilateral seperti Bank Dunia, BRICS dan AIIB (Asian Infrastructure Investement Bank) , dan re-alokasi APBN maka supply listrik akan makin stabil dan resiko mati lampu akan menurun.
Jangan ada lagi siswa yang gagal ujian karena komputernya tidak ada akses listrik. Jangan ada lagi tumpukan makanan busuk karena kulkas mati. Jangan ada lagi keraguan untuk investasi di Indonesia karena ketersediaan listrik tidak terjamin.
Kakek Garin bisa tersenyum bahagia ketika cahaya agama bersinar di hati penduduk desanya dengan saling bergotong royong dan cahaya literal bersinar di surau serta rumah tetangganya.
Berly Martawardaya, Dosen FEB UI dan Ekonom INDEF (Institute for Development of Economics and Finance
Artikel disarikan dari paparan penulis di media briefing yang diselenggarakan pada hari Kamis, 25 Juni 2026 oleh LaporIklim (gerakan bersama untuk keadilan iklim)
Leave a comment