Baru-baru ini dalam acara Nahdlatul Ulama, Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan kedekatannya dengan keluarga KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia menyebut keluarganya dulu bertetangga dengan KH Wahid Hasyim di Menteng, Jakarta. Cerita ini bukan sekadar kenangan pribadi. Ia merupakan bagian dari mozaik sejarah yang menghubungkan keluarga Djojohadikusumo dengan tradisi Nahdliyin sejak beberapa generasi.

Konon nama Hashim pada Hashim Djojohadikusumo diambil dari nama KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Jika benar, hal ini menunjukkan pengaruh kuat tokoh Islam tradisional dalam lingkaran keluarga Prabowo sejak dini. Prabowo bukan hanya menghormati warisan ayahnya Sumitro Djojohadikusumo dan kakeknya. Ia menjadikan penghormatan itu sebagai bagian sikap politiknya yang konsisten. Kedekatan ini berakar pada hubungan historis antara kalangan nasionalis-intelektual dan komunitas santri.

Salah satu benang merah penting adalah hubungan Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sumitro dengan NU. Secara historis keduanya cukup dekat. Bahkan pada persiapan Pemilu 1955 sempat ada pembicaraan agar PSI bergabung dengan NU. Tujuannya memperkuat sayap intelektual dan ilmu umum di tubuh NU. Meski akhirnya mengalami deadlock, fakta ini menunjukkan kolaborasi antara modernis-nasionalis dan basis santri bukan hal baru dalam politik Indonesia.

Pada era 1950-an beredar sindiran satire di kalangan Jawa: orang Jawa yang pintar hanya ada di PSI. Sindiran ini merujuk tokoh seperti Sumitro Djojohadikusumo, Subadio Sastrosatomo, Sudjatmoko, Soedarpo, Sugondo dan lainnya. Mereka dikenal sebagai kalangan priyayi atau abangan yang berorientasi nasionalisme dan modernisasi di masa muda. Namun realitas sejarah lebih kompleks dari label sederhana itu.

Banyak tokoh PSI mengalami transformasi keagamaan di masa tua. Mereka yang semula cenderung abangan semakin mendekatkan diri pada praktik keagamaan yang taat. Buku Rosihan Anwar merekam momen menarik. Buya Syafii Maarif muda pernah melihat tokoh PSI shalat di sela seminar di Yogyakarta. Buya tersenyum lalu bertanya kepada Rosihan tentang praktik keberagamaan mereka. Rosihan menjelaskan secara detail. Bahkan ia sendiri pernah mengajarkan Soedjatmoko cara shalat dan mengaji.

Teori genealogi politik Jawa klasik membagi masyarakat menjadi priyayi ke PNI, abangan ke PKI, dan santri ke NU. Namun realitas selalu lebih rumit. Ada priyayi yang tidak sepenuhnya abangan, ada abangan yang berdialektika dengan santri, dan ada intelektual yang memperkaya tradisi keagamaan dengan wawasan modern.

Kedekatan Prabowo dengan NU bukan politik transaksional semata. Ia memiliki fondasi kuat dalam sejarah keluarga, jaringan elit lama, dan pemahaman dinamika sosial Indonesia. Di tengah polarisasi yang sering dibuat-buat, hubungan ini mengingatkan bahwa politik paling langgeng adalah yang menghormati akar sejarah dan tradisi.

NU sebagai organisasi Islam terbesar bukan hanya kekuatan politik. Ia penjaga moderasi, kearifan lokal, dan nilai kebangsaan inklusif. Sementara tradisi intelektual PSI membawa semangat rasionalitas dan modernisasi. Saat keduanya saling mengisi seperti yang dibayangkan tahun 1955, Indonesia menjadi lebih kuat.

Prabowo tampak memahami pelajaran sejarah ini. Ia terus menjaga silaturahmi dengan keluarga Hasyim Asyari dan NU. Di era politisi mencari legitimasi agama secara instan, pendekatan berbasis sejarah dan penghormatan tulus ini jauh lebih bermakna.

Sejarah Indonesia adalah sejarah akomodasi dan sintesis. Bukan hitam putih atau pertentangan abadi antara santri dan abangan, melainkan dialektika yang terus berjalan. Dalam dialektika itu Prabowo dengan latar belakang keluarganya memilih posisi strategis: menjaga warisan sambil membangun masa depan inklusif.

Sumitro Djojohadikusumo adalah ekonom visioner dengan komitmen pembangunan nasional rasional. Kedekatan dengan NU memperkaya perspektif itu dengan nilai moderat. Hari ini di bawah kepemimpinan Prabowo, hubungan baik dengan NU menjadiE modal sosial berharga. Jaringan NU di grassroots dapat mempercepat program pembangunan berbasis masyarakat.

Warisan intelektual PSI mengingatkan pentingnya pemikiran kritis dan kebijakan berbasis data. Sintesis keduanya adalah kunci kemajuan tanpa kehilangan jati diri.

Kisah ini mengajarkan politik Indonesia tidak bisa dipahami hanya melalui ideologi sempit. Ia melibatkan jaringan sejarah, hubungan personal, dan pemahaman masyarakat majemuk. Dengan menjaga ikatan ini Prabowo menghormati masa lalu sekaligus membangun fondasi persatuan.

Indonesia besar karena kemampuannya menyatukan keragaman. Hubungan Prabowo, keluarga Djojohadikusumo, dan NU adalah contoh bagaimana sejarah menjadi kekuatan pemersatu.

Indra J. Piliang & Yos Fitriadi

Leave a comment

Selamat datang!

Selamat datang di situs Mediantara! Portal ini akan menampilkan warta dan wacana tentang keindonesiaan.

Let’s connect